Ketika Penuaan Mulai Melanda Pria

Posted: September 8, 2015 in KNOWLEDGE
Kompas – Jumat, 11 Juni 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – STAMINA menurun seiring bertambahnya usia. Sebagian besar para pria akan mengalami hal ini cepat atau lambat. Observasi tentang usia dan pergerakan yang melambat terkadang membuat kita menjadi kurang produktif dalam bidang fisik ataupun akademis.

Pada masa lewat paruh baya inilah kinerja menurun dan diperlukan usaha lebih untuk mempertahankan kecepatan yang kita miliki layaknya waktu muda dulu. Tak jarang pula terjadi, ketika fisik terlalu banyak bekerja, badan akan terasa sakit dan pegal, mulai sulit berkonsentrasi dan mudah lupa. Kurangnya energi, tenaga dan ketahanan tubuh ketika menua merupakan hal wajar. Termasuk, kurangnya gairah seks dan ereksi tidak tahan lama.

Faktanya, proses penuaan hanya bisa kita hadapi dengan usaha sebisanya, dicegah jika bisa dan ditunda apa yang bisa ditunda. Ilmu medis masa kini pun telah banyak menyampaikan pesan mengenai gaya hidup sehat, gizi dan penggantian hormon yang dapat menunda penuaan dini.

Hormon yang mempengaruhi proses penuaan pada pria dan wanita, seperti hormon gonadal, adrenal, thyroid dan hormon pertumbuhan. Dengan adanya penggantian hormon ini, makan hormon penuaan akan sedikit diproduksi, dan hormon-hormon baru ini lah yang akan membantu perbaikan sel-sel tubuh dan mempertahankan fungsi tubuh.

Meski demikian, praktik penggantian hormon pada pria lanjut usia ini merupakan praktik medis yang cukup pesat pertumbuhannya dan perdebatan mengenai “andropause” kerap terjadi beberapa tahun terakhir.

“Andropause” merupakan kondisi mental, fisik dan seksual pria yang berkaitan dengan tingkat testosteron yang rendah. Tingkat testosteron yang semakin rendah dipercaya akan meningkatkan munculnya gejala-gejala adropause. Meski demikian, penggunaan kata “andropause” dalam hal ini belumlah tepat.

Pertama, tidak benar bahwa andropause merupakan “menopause” pada pria. Gejala andropause terjadi secara rutin. Hal ini terjadi ketika terjadi perubahan dalam tubuh yang mempengaruhi kualitas hidup. Selain itu, tidak bisa disamakan antara efek dari terapi penggantian hormon wanita saat menopause dengan efek penggantian testosteron pada pria.

Kedua, “andropause” sangat jelas berarti bahwa kelenjar sel seks (gonad) sudah tidak lagi diproduksi. Pada “kondisi penuaan” ini, tingkat testosteron semakin menurun, namun tidak nol. Selain ini, menurunnya produksi testosteron seiring bertambahnya usia tidaklah sama pada semua pria, karena tidak semua pria mengalami penurunan produksi testosteron.

Tingkat penurunan pada setiap pria berbeda-beda, dengan gejala yang berbeda-beda pula. Para ahli menyebut istilah tersebut dengan nama SLOH atau symptomatic late-onset hypogonadism, yang artinya gejala defisiensi sistem reproduksi yang mengakibatkan menurunnya fungsi sel seks atau gonad (rahim atau testis).

Setiap pria tahu bahwa kita mengalami penurunan pada saat kita menua. Bisa jadi SLOH. Kira-kira 50% pria mengalami gejala-gejala ini pada usia 55 tahun. Namun hypogonadism pada pria ini kerap tidak dilaporkan dan didiagnosa lebih lanjut.

Sejak dini, yang dapat dilakukan para pria yang mulai merasa stamina adalah dengan mengenali gejala-gejala SLOH. Sehingga pemeriksaan tingkat testosteron pun dapat dilakukan untuk mendapatkan diagnosa pasti. Perawatan yang dilakukan pun dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan. Terapi testosteron tentu patut untuk dipertimbangkan agar SLOH tidak menyebabkan kualitas hidup dan stamina menurun. (abd)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s