Patuh Pengobatan, Epilepsi Bisa Disembuhkan

Posted: July 6, 2013 in HEALTH

Anak epilepsi (Foto: Corbis)
KEPATUHAN penyandang epilepsi dalam mengonsumsi obat antiepilepsi sangatlah penting. Sebab, ketidakpatuhan terhadap pengobatan yang dilakukan justru memperparah penyakit tersebut.

Kunci kesuksesan pengobatan berbagai penyakit terletak pada kepatuhan mengonsumsi obat yang diresepkan. Begitu pula dengan epilepsi. Rutin menjalani pengobatan yang diberikan, tak pelak menjadi keberhasilan bagi penyandang epilepsi (PE) untuk meraih kualitas hidup yang baik. Hal ini dituturkan oleh spesialis anak dari RSCM dr Irawan Mangunatmadja SpA (K).

Dikatakan Irawan, serangan berulang akibat ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan dapat berujung fatal. “Bisa menyebabkan jaringan otak rusak sehingga menyulitkan terapi, bahkan memperparah kondisi sehingga berisiko membahayakan pasien,” terangnya.

Dia juga menegaskan agar pengobatan dilakukan hingga tuntas. Artinya, jangan sampai pengobatan tersebut putus di tengah jalan.

“Jangan sampai menghentikan asupan obat atau mengubah obat paten menjadi obat substitusi di tengah jalan, tanpa konsultasi dokter,” tambahnya.

Dengan demikian, kandungan hayati obat epilepsi haruslah stabil dari waktu ke waktu, mengingat manajemen pengobatan untuk PE berlangsung dalam jangka waktu panjang. Peningkatan kandungan hayati ini dapat berisiko meracuni tubuh pasien. Di lain pihak, penurunan kandungan hayati justru berisiko memicu terjadinya kekambuhan sampai 80%.

Jadi, diagnosis sedini mungkin serta penentuan obat antiepilepsi yang tepat, mutlak diperlukan karena keduanya berperan besar dalam kesembuhan PE nantinya. Pengobatan epilepsi diperlukan untuk mengurangi kecenderungan otak mendapatkan bangkitan dengan cara mengurangi kegiatan elektrik yang berlebihan atau mengurangi rangsangan yang diterima oleh neuron atau saraf.

“Anak yang masih mempunyai plastisitas otak yang baik, akan berusaha memperbaiki kerusakan jaringan yang ada. Apabila serangan kejang masih terjadi, plastisitas otak tidak bisa bekerja dengan baik sehingga kerusakan jaringan semakin nyata,” kata Irawan.

Ketidakpatuhan pengobatan akan menurunkan platisitas otak dan bagi anak PE akan mengalami gangguan tumbuh kembang. PE memang tidak lepas dari beban moral yang menyertai dalam segala aktivitas yang dilakukan di tengah stigma negatif masyarakat terhadap penyakit ini. Terlebih, serangan epilepsi juga bisa muncul kapan dan di mana saja.

Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat diperlukan. “Agar mereka (PE) merasa nyaman sehingga membangkitkan semangat untuk patuh terhadap pengobatan dan terhindar dari bahaya status epileptikus,” tutur dr Endang Kustiowati SpS(K) MSi Med.

Epileptikus adalah serangan beruntun lebih dari 30 menit yang berdampak kematian. Apalagi, lanjut Endang, mengingat pengobatan epilepsi memakan waktu bertahun-tahun, yang membuat PE longgar disiplin terhadap kepatuhan pengobatan.

Penggunaan dan pemilihan obat antiepilepsi ini haruslah berdasarkan pengawasan dokter. Terlebih lagi, apabila PE ingin melakukan penggantian obat dari obat paten menjadi obat substitusi ataupun sebaliknya. Salah satunya adalah AED (antiepilepsi drugs). Fungsi AED tidak menyembuhkan,namun indikasi obat ini untuk mencegah kejang. Dalam hal ini, peran dokter sangat penting guna menjabarkan detail risiko yang terjadi akibat penggantian obat tersebut.

Kepatuhan PE dalam pengobatan terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup. Hal ini telah dibuktikan pada Bagas yang divonis mengidap epilepsi saat berusia 2 tahun. Diceritakan sang ibu, Marifa, pada suatu hari dia mendapati putranya bersikap aneh.Kepala Bagas menengok ke arah kanan selalu dan tak sadarkan diri.

“Dalam sehari dia bisa kejang sampai 30 kali,” kenang Marifa.

Marifa lalu membawa Bagas ke RSCM dan dirujuk ke bagian dokter saraf. Dari situlah Marifa tahu Bagas menderita epilepsi. Sejak saat itu Bagas teratur minum obat, bangkitannya pun berkurang. Namun, lantaran faktor finansial, pengobatan Bagas sempat terhenti dan kejang Bagas pun kembali. Maklum, biaya pengobatan epilepsi yang harus ditanggungnya mencapai Rp800.000/bulan. Marifa kemudian mengurus surat keterangan tidak mampu (SKTM) dan bisa menekan biaya hingga hanya Rp100.000.
(tty)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s