Korban Jatuh Lagi di Kebun Binatang Surabaya

Posted: March 16, 2012 in GO GREEN !

Oleh Isyana Artharini | Newsroom Blog – 2 jam 52 menit lalu

Laporan yang muncul dari Kebun Binatang Surabaya semakin mencemaskan. Setelah Kliwon, jerapah afrika usia 30 yang sakit, kini seekor banteng jawa yang mati.

Pada Selasa (14/3) lalu, banteng ini mengalami patah kaki karena diseruduk banteng jawa lain saat berebut mendapatkan betina. Salah satu penyebab banteng bisa saling menyeruduk adalah kandang yang terlalu penuh.

Sebelumnya, Kliwon, jerapah afrika mati dengan gumpalan plastik seberat 18 kg di dalam perutnya. Diduga, karena kelaparan, maka ia mencari makanan lain. Yang ia temukan adalah plastik-plastik sisa penampung jajanan yang dibuang oleh para pengunjung kebun binatang.

Selain nasib banteng jawa dan jerapah afrika, ada harimau yang kurus kering, dan 180 burung pelikan yang kandangnya kepenuhan. Mereka sampai tak bisa mengembangkan sayap tanpa mengenai burung lain.

Associated Press sudah menurunkan laporan khusus soal keberadaan kebun binatang ini. Berita tentang keberadaan kebun binatang ini pun sudah muncul di Time. Kebun binatang yang hampir berusia 50 tahun ini dulunya adalah kebun binatang dengan koleksi paling lengkap di Asia Tenggara.

Menurut laporan yang mereka turunkan, kini Kebun Binatang Surabaya (KBS) adalah mimpi buruk. Permasalahannya bertumpuk, mulai dari hewan yang berkembang biak tanpa kendali, tak ada dana untuk kesejahteraan hewan, serta kecurigaan bahwa staf kebun binatang terlibat dalam perdagangan ilegal hewan.

Spesies yang paling istimewa, termasuk komodo dan orangutan yang nyaris punah, berada di kandang-kandang gelap dan kotor. Mereka makan kacang yang dilempar melewati pagar oleh para pengunjung yang sibuk tertawa-tawa.

“Ini sangat tragis, tapi tidak mengejutkan untuk ukuran kebun binatang di Indonesia. Secara keseluruhan, kebun binatang di Indonesia dikelola dengan cara yang mengerikan,” kata Ian Singleton, bekas pengelola kebun binatang yang kini memiliki program pelestarian orangutan di Sumatra.

KBS sebenarnya sudah mendapat kritik keras dua tahun lalu setelah muncul laporan 25 dari 4000 hewan yang ada di sana mati tiap bulan, hampir semuanya secara mendadak. Ada singa afrika, harimau sumatra, dan beberapa buaya.

Pemerintah sudah menunjuk seorang pengelola kebun binatang yang berpengalaman, Tony Sumampouw, untuk membenahi manajemen kebun binatang. Dia berjuang, dan agak sukses, menurunkan tingkat kematian hewan sampai 15 ekor per bulan dari 25.

Meski setelah kematian Kliwon pekan lalu, Sumampouw bilang dia sudah menyerah. Ia yakin kebun binatang membutuhkan “renovasi total”. “Kita harus berpikir soal pengelolaan swasta (privatisasi) atau memindahkan sebagian hewan.”

Dengan harga tiket masuk yang Rp 15 ribu, tidak ada cukup uang untuk memberi makan hewan. Jangan tanya lagi untuk perbaikan fasilitas kebun binatang.

Salah satu masalah terbesar kebun binatang adalah
jumlah hewan yang terlalu banyak.

Kebanyakan kebun binatang membatasi hewan yang lahir di penangkaran. Pertimbangannya adalah berapa jumlah hewan yang bisa mereka rawat atau mereka tukar dengan kebun binatang lain. Sayangnya, kebiasaan ‘membatasi kelahiran hewan’ tidak populer di Indonesia. Kontrasepsi hewan mahal dan tidak cukup fasilitas untuk memisahkan jantan dan betina. Hasilnya, kebun binatang Surabaya terus berkembang biak.

Ada 180 pelikan yang dikurung di kadang seukuran lapangan bola voli. Di dekatnya, 16 harimau – 12 dari Sumatra dan 4 dari Bengal – berada di deretan kandang seperti penjara beton.

Seekor harimau putih, yang orangtuanya diberikan oleh pemerintah India 20 tahun lalu, kini kulitnya tertutupi penyakit.

Karena jarang dibiarkan keluar, harimau putih ini mengalai komplikasi tulang belakang yang membuatnya sulit berdiri, apalagi jalan, kata kurator kebun binatang Sri Pentawati.

“Kami punya terlalu banyak harimau. Kami kesulitan mengeluarkan mereka mereka untuk bisa berjalan-jalan agar mereka bisa berolahraga.”

Rahmat Shah, seorang pemburu yang saat ini menjabat Ketua Asosiasi Kebun Binatang Indonesia, mengatakan, tidak ada kebun binatang milik pemerintah di Indonesia yang kondisinya baik. Tapi KBS sangat bermasalah karena permasalahan internal.

Dua pria yang saling mengklaim sebagai kepala kebun binatang sudah dipecat beberapa tahun lalu, tapi ‘pengikut’ mereka di kalangan staf terus melanjutkan pertikaian tersebut.

Polisi percaya bahwa kematian babi hutan pada Januari lalu berhubungan dengan konflik tersebut. Mereka menemukan jejak sianida di perut babi hutan.

“Satu pihak selalu berusaha mendiskreditkan pihak yang lain,” kata Ludvie Achmad, kepala badan konservasi lokal.

Sumampouw mengatakan dia tidak bisa mengendalikan staf yang tidak disiplin. Dia yakin ada tiga komodo yang hilang tahun lalu, dicuri oleh para penjaga, dan dijual ke perdagangan hewan.

Bahkan penjaga kebun binatang sering dituduh mengambil daging yang awalnya untuk harimau dan dijual di pasar tradisional.

Nah, setelah semua permasalahan Kebun Binatang Surabaya dipaparkan, apa yang akan Anda lakukan jika Anda diberi kepercayaan untuk memperbaiki kebun binatang ini?

Swastanisasi tentu akan menaikkan harga tiket masuk. Setujukah Anda akan opsi menaikkan harga tiket masuk? Atau malah harga tiket yang naik malah akan membuat pengunjung jadi sedikit?

Dan bagaimana, menurut Anda, cara menerapkan aturan buat para pengunjung kebun binatang agar mereka tak memberi makan atau buang plastik sembarangan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s